Mobilitas Masyarakat Tasikmalaya Saat PPKM Masih Tinggi

Rep: Bayu Adji P/ Red: Andi Nur Aminah

Sidang tipiring bagi para pelangga aturan PPKM Darurat di Kota Tasikmalaya, Selasa (13/7).
Sidang tipiring bagi para pelangga aturan PPKM Darurat di Kota Tasikmalaya, Selasa (13/7). | Foto: dok. Istimewa

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Berdasarkan hasil evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sepekan terakhir, mobilitas masyarakat di Kota Tasikmalaya masih tinggi. Kota Tasikmalaya menempati posisi nomor dua terendah dalam hal penurunan mobilitas masyarakat selama PPKM Darurat.

Kepala Bagian Operasi (Kabag Ops) Polres Tasikmalaya Kota, Kompol Shohet mengatakan, pihaknya akan melakukan rapat bersama forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) Kota Tasikmalaya untuk menindaklanjuti hasil evaluasi tersebut. Menurut dia, pihaknya kemungkinan akan memperketat penyekatan untuk membatasi mobilitas masyarakat.

Baca Juga

"Kita akan lebih selektif lagi, terutama di wilayah perbatasan. Kalau memang tak terlalu krusial, tak boleh masuk Kota Tasikmalaya," kata dia saat dihubungi Republika.co.id Selasa (13/7).

Menurut dia, sudah mulai terjadi penurunan mobilitas masyarakat selama PPKM Darurat diterapkan. Namun, bukan berarti aktivitas masyarakat berhenti total. Sebab, masih terdapat usaha yang beroperasi, terutama di sektor esensial dan kritikal.

Sementara itu, kasus Covid-19 di Kota Tasikmalaya masih terus mengalami kenaikan. Pada Selasa, terdapat penambahan 209 kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Secara akumulatif, total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Tasikmalaya telah menembus 10 ribu kasus, tepatnya 10.201 kasus. Sebanyak 1.621 kasus aktif dan 323 kasus kematian.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra mengatakan, penambahan kasus terkonfirmasi masih berasal dari kontak erat pasien sebelumnya. Mayoritas berasal dari klaster keluarga. "Butuh waktu untuk menekan kasus. Jadi PPKM tak langsung berdampak signifikan," kata dia.

Ia mengatakan, penerapan PPKM Darurat cukup berpengaruh mengurangi mobilitas masyarakat. Namun, penularan Covid-19 di dalam rumah tak serta merta berhenti.

Asep menambahkan, mutasi varian baru Covid-19 membuat penularan semakin masif. Apalagi, masyarakat juga sudah jenuh dalam memakai masker.

Ia menjelaskan, sejauh ini memang belum terdapat bukti ilmiah masuknya varian baru Covid-19 di Kota Tasikmalaya. Namun, melihat angka penambahan kasus yang terus meningkat, kemungkinan besar sudah ada varian baru Covid-19 di Kota Tasikmalaya.

Karenanya, ia mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan protokol kesehatan (prokes) berupa 5M. Ia menegaskan, cara terbaik untuk mencegah penularan Covid-19 adalah menerapkan protokol kesehatan (prokes). "Penerapan 5M itu masih sangat relevan untuk mencegah penularan," kata dia. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Terkait


Tingkatkan Kesadaran dan Ketertiban Saat PPKM

Mulai Hari Ini, Penyekatan di Kuningan Semakin Lama & Meluas

Menko Airlangga: Realisasi PEN Capai Rp 252,3 Triliun

1.500 Oxygen Concentrator Dikirim dari Shanghai ke Jakarta

Vaksinasi Hampir Beres, Singapura Siap 'Hidup dengan Covid'

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image