Panen Mundur, Harga Garam Naik

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Fuji Pratiwi

Petambak garam di Losarang, Indramayu, Jawa Barat (ilustrasi). Masih seringnya hujan turun membuat panen garam di Jawa Barat diprediksi mundur dari biasanya Juni-Juli menjadi Agustus-September.
Petambak garam di Losarang, Indramayu, Jawa Barat (ilustrasi). Masih seringnya hujan turun membuat panen garam di Jawa Barat diprediksi mundur dari biasanya Juni-Juli menjadi Agustus-September. | Foto: Dedhez Anggara/ANTARA FOTO

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Mundurnya masa produksi garam akibat hujan yang masih sering turun, berdampak pada harga garam. Saat ini, harga garam mengalami kenaikan.

Salah seorang petambak garam di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Robedi, menyebutkan, harga garam simpan saat ini mencapai Rp 600 per kilogram (kg). Selain harganya yang naik, tidak semua petambak garam memiliki stok garam.

Robedi mencontohkan, simpanan garam milik petambak di daerahnya di Kecamatan Losarang saat ini sudah habis. Garam tersebut dibeli oleh para pemesan dari berbagai daerah, seperti Lampung dan Jabodetabek. Selain untuk kebutuhan konsumsi, garam tersebut juga dibutuhkan untuk industri pengolahan ikan asin.

"Garam mulai laku sejak sekitar setengah bulan yang lalu," kata Robedi kepada Republika, akhir pekan lalu.

Robedi menambahkan, para pembeli garam hingga kini terus berdatangan. Untuk memenuhi permintaan itu, dia mencari garam di daerah Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu.

"Itu garam simpan. Kalau garam yang baru kan belum ada yang panen," ungkap Robedi.

Robedi berharap, tingginya harga garam di tingkat petambak akan terus stabil pada tahun ini. Dengan demikian, para petambak garam bisa menikmati keuntungan.

"Dua tahun lalu, harga garam jatuh sampai Rp 150 per kg. Sedangkan tahun lalu, hitungannya gagal panen karena faktor cuaca," kata Robedi.

Ketua Asosiasi Petani Garam (Apgasi) Jawa Barat, M Taufik, membenarkan harga garam saat ini mengalami kenaikan. Dia bahkan menyebutkan, harga garam saat ini ada yang mencapai Rp 750 per kg.

"Itu garam simpan, bukan garam yang baru. Sekarang belum ada yang panen," kata Taufik.

Taufik menambahkan, meski harga garam saat ini naik, tapi hanya sedikit petambak garam yang menikmatinya. Sebab, garam mereka sudah habis terjual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Yang menikmati harga garam sekarang ya spekulan yang menyimpan garam," kata Taufik.

Taufik mengungkapkan, saat ini masa penggarapan lahan garam baru saja dimulai karena hujan yang masih kerap turun pada Juni-Juli lalu. Dia memperkirakan, masa panen raya garam baru akan terjadi pada akhir Agustus atau awal September.

Taufik menjelaskan, berdasarkan prakiraan BMKG, musim hujan pada tahun ini akan tiba kembali pada Oktober. Dengan kondisi tersebut, maka produksi garam pada tahun ini akan berkurang.

Taufik menilai, singkatnya masa produksi garam juga akan berpengaruh pada harga garam. Dia memperkirakan, harga garam di tingkat petambak akan mengalami kenaikan.

"Selain (soal lama/tidaknya masa produksi), harga garam juga dipengaruhi oleh kualitas garam. Kalau produksi garam polanya seperti sekarang hanya untuk konsumsi, ya tidak bisa bersaing. Kualitas garam petambak harus meningkat," kata Taufik.

 

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Terkait


Gangguan Cuaca Akibatkan Banjir di Jeruklegi Cilacap

BMKG Ungkap Penyebab Malam Terasa Lebih Dingin di Jawa

Sukabumi Genjot Tanam Padi di Awal Musim Kemarau

BPBD Gunungkidul Distribusikan Air Bersih di 307 Dusun

Ratusan Hektare Lahan Rentan Kekeringan Jelang Kemarau

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image