LIPI: Partai Harus Kedepankan Sistem, Bukan Tokoh

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Agus Yulianto

Pengamat politik Yudi Latif (kiri), Ketua Komisi II DPR Agun Gunanjar (kedua kiri), pengamat politik Firman Noor (tengah), mantan ketua MK Jimly Asshiddiqie (kedua kanan), mantan ketua KNPI Aulia Rahman (kanan) di komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (2
Pengamat politik Yudi Latif (kiri), Ketua Komisi II DPR Agun Gunanjar (kedua kiri), pengamat politik Firman Noor (tengah), mantan ketua MK Jimly Asshiddiqie (kedua kanan), mantan ketua KNPI Aulia Rahman (kanan) di komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (2 | Foto: Republika/Tahta Aidilla

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - - Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Firman Noor mengatakan, sejumlah partai politik saat ini masih mengedepankan ketokohan dari seseorang yang dianggap berpengaruh terhadap partai. Padahal, seharusnya partai lebih mengedepankan sistem agar memunculkan partai yang demokratis.

"Merupakan satu realita di negara-negara yang demokrasinya sudah establish, bahwa kebanyakan atau sebagian besar partai politik mengedepankan sistem," ujar Firman dalam sebuah diskusi daring, Rabu (4/8).

Partai yang lebih mengedepankan sistem akan melahirkan kader-kader bermental demokratis dan sederajat. Sehingga, tidak memunculkan lagi partai yang hanya dikendalikan oleh tokoh atau elite tertentu.

"Kawah Candradimuka-nya itu di partai, oleh karena itu partai harus menjadi sekolah yang baik untuk bisa mentransformasi orang yang kurang menghargai sistem, jadi orang yang lebih menghargai sistem," ujar Firman.

Selain itu, dia berharap, politik memiliki aturan-aturan yang diatur secara rinci. Agar partai tidak memiliki celah untuk dapat diintervensi oleh tokoh atau elite yang dianggap berpengaruh dalam internal partai.

Firman kemudian menjelaskan salah satu kajiannya terkait anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) partai di India. Dari kajian tersebut disimpulkan bahwa partai yang dikelola dengan baik adalah mereka yang memiliki AD/ART yang rigid atau detail.

"Bukan segalanya diserahkan kepada aturan tambahan, karena aturan tambahan itu kerap dilakukan oleh segelintir orang yang intervensi elitismenya itu bisa jadi kuat. Tapi kalau AD/ART dengan melibatkan banyak kalangan, itu menjadi AD/ART yang lebih demokratis, tidak multitafsir," ujar Firman.

Saat partai lebih mengedepankan sistem, akan menciptakan rangka transparansi dan partisipasi yang lebih baik dalam internal partai. Sehingga kebijakan-kebijakan partai dapat menjadi lebih terkontrol dan aspiratif.

"Upaya-upaya yang bersifat manipulatif, termasuk penggunaan politik uang sudah sejak dini dapat dihindari," ujar Firman.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


LIPI Paparkan Alasan Parpol Sulit Dipisahkan dari Korupsi

LIPI Buat Insinerator Pengolah Sampah Medis Skala Kecil

Kepala BRIN Sambut Pengukuhan Empat Profesor Riset LIPI

Profesor Riset LIPI Kembangkan Instrumentasi Neraca Air

Profesor LIPI Dorong Penguatan Penelitian Sesar Aktif

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image