Kemendikbud Yakin Kuliah Tatap Muka tak Timbulkan Klaster

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Mas Alamil Huda

Sejumlah mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) mengikuti uji coba Perkuliahan Tatap Muka (PTM) dengan melakukan protokol kesehatan, di Fakultas Hukum kampus setempat, Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Sejumlah mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) mengikuti uji coba Perkuliahan Tatap Muka (PTM) dengan melakukan protokol kesehatan, di Fakultas Hukum kampus setempat, Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. | Foto: Antara/Maulana Surya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nizam meyakini kuliah tatap muka tidak akan memunculkan klaster penularan Covid-19. Berdasarkan percobaan kuliah campuran tatap muka dan daring selama ini tidak pernah menimbulkan klaster.

"Kampus-kampus kita dorong untuk melakukan tatap muka. Dicoba, alhamdulillah tidak ada kasus. Artinya, kalau kita disiplin penyelenggaraan pembelajaran di kampus tidak akan jadi klaster baru. Selama kita disiplin," kata Nizam, dalam webinar Efektivitas Pendidikan Tinggi dengan PTM Terbatas dan Bantuan UKT Kuliah, Jumat (27/8).

Ia menjelaskan, saat ini Kemendikbudristek memberdayakan relawan mahasiswa untuk melakukan vaksinasi massal. Kemendikbudristek juga telah memberikan bantuan kepada Pemprov DKI Jakarta berupa mobil untuk vaksinasi keliling.

Menurut Nizam, upaya-upaya mendorong vaksinasi ini dilakukan agar pembelajaran tatap muka bisa segera dilakukan. "Vaksinasi kita dorong agar mempersiapkan pembealjaran tatap muka bisa diakselerasi," kata dia lagi.

Sementara itu, Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) Panut Mulyono mengatakan saat ini masih banyak perguruan tinggi yang belum bisa sepenuhnnya melaksanakan pembelajaran tatap muka. Saat ini, hal yang bisa dilakukan yakni membagikan bantuan kuota internet kepada mahasiswa dan dosen agar pembelajaran tetap dapat berjalan dengan lancar.

Menurut Rektor UGM ini, gotong royong dalam pendidikan sebetulnya sudah terjadi. "Bahkan dengan pandemi ini, kemudahan-kemudahan yang disampaikan atau yang diberikan oleh lembaga-lembaga finansial, perbankan misalnya, memberikan bahkan bukan kredit, jadi yang membayarkan UKT itu bank kepada kampus. Kemudian mahasiswanya nyicil ke bank," kata Panut.

Terkait hal tersebut, pola-pola gotong royong selama pandemi sudah terasa. Sekarang, lanjut Panut, hal yang perlu ditekankan yakni semua pihak untuk bisa memanfaatkan peluang-peluang yang ada agar pembelajaran di masa pandemi ini berjalan dengan sebaik-baiknya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Kemendikbudristek Dorong Kuliah Tatap Muka

Kemendikbud Pilih Mitra Sistem Informasi Pengadaan Sekolah

Kemendikbudristek-BPPT Ungkap Pentingnya Penguatan SDM Iptek

Sekolah Diminta Perbarui Dapodik untuk Data Bantuan Pulsa

Kemendikbudristek: Terus Perkuat Peran Sekolah Inklusif

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image