Rabu 22 Sep 2021 16:36 WIB

Berdikari Impor 151 Ribu Ton Gandum Australia dan Ukraina

Gandum yang diimpor oleh Berdikari adalah gandum khusus pakan ternak.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Gandum (ilustrasi).
Foto: pixnio
Gandum (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- BUMN Klaster Pangan, PT Berdikari (persero) telah mendatangkan gandum impor khusus untuk pakan ternak sebanyak 151.585 ton atau lebih dari 50 persen dari total penugasan impor 300 ribu ton tahun ini. Pasokan gandum tersebut diharapkan dapat melengkapi kebutuhan jagung untuk pakan yang saat ini sedang mengalami kenaikan harga.

Sekretaris Perusahaan Berdikari, Dheni Karmavina, menjelaskan, pemasukan gandum impor telah dilakukan sebanyak tiga kali pengapalan sejak Juni lalu. Adapun pengapalan ketiga telah masuk melalui Pelabuhan Cigading, Banten, pada Selasa (21/9) kemarin sebanyak 25 ribu ton.

"Stok yang masuk berasal dari Australia dan Ukraina. Gandum ini bukan untuk menggantikan jagung tetapi untuk pelengkap bahan baku pakan ternak," kata Dheni kepada Republika.co.id, Rabu (22/9).

Dheni menuturkan, penugasan impor gandum diberikan kepada Berdikari melalui rapat koordinasi level Kementerian Koordinator Perekonomian pada April lalu. Adapun, penugasan impor gandum tersebut berlaku hingga November mendatang.

Adapun gandum yang diimpor tersebut khusus klasifikasi pakan ternak sehingga berbeda dengan gandum yang digunakan industri makanan dan minuman. Diimpornya gandum khusus pakan ternak tersebut bertujuan untuk mensubstitusi gandum pakan yang selama ini diperoleh dari gandum untuk pangan masyarakat.

Ia menjelaskan, selama ini pabrik pakan unggas menggunakan gandum untuk konsumsi pangan sebagai bahan baku pakan ternak. Hal itu secara langsung menghilangkan potensi pendapatan negara dari bea masuk impor. Pasalnya, impor gandum khusus pakan saat ini dikenakan bea masuk sebesar 5 persen.

Adapun potensi pendapatan dari impor gandum khusus pakan, menurut catatannya bisa mencapai Rp 500 miliar jika mengacu pada kebutuhan rata-rata pakan unggas tahunan.

"Terkait ini makanya ketika gandum pangan yang digunakan untuk pakan ada potensi pendapatan negara yang hilang. Adanya impor khusus ini bisa memberikan pendapat yang cukup signifikan," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement