BMKG Minta Masyarakat Bogor Waspada Ciri-ciri Cuaca Ekstrem

Red: Andi Nur Aminah

Pengendara sepeda motor memakai mantel saat hujan di Jalan Raya Talang, Kota Bogor, Jawa Barat (ilustrasi)
Pengendara sepeda motor memakai mantel saat hujan di Jalan Raya Talang, Kota Bogor, Jawa Barat (ilustrasi) | Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Masyarakat Bogor diminta waspada, dalam menghadapi cuaca ekstrem berupa hujan deras dan angin puting beliung, yang diperkirakan akan berlangsung selama sepekan ke depan. Ciri-ciri dari datangnya cuaca ekstrem bahkan dapat dilihat secara kasat mata.

Kepala Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Citeko, Fatuhri Syabani menyebutkan, cuaca ekstrem merupakan fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi. Datangnya fenomena cuaca ekstrem, dapat dilihat melalui cuaca yang panas terik pada siang hari, serta munculnya awan putih yang berlapis-lapis, atau Cumulus berbentuk bunga kol.

Baca Juga

Fatuhri mengatakan, cuaca ekstrem biasanya terjadi pada masa pancaroba, dari musim kemarau ke hujan. Meski demikian, berdasarkan pengamatan BMKG, terjadinya kembali angin puting beliung di tempat yang sama sangat kecil kemungkinannya.

“Karakter cuaca ekstrem di Indonesia berdurasi singkat hanya sekira 10 menit. Adapun, luasan angin puting beliung hanya berkisar lima sampai 10 kilometer,” jelasnya, Kamis (23/9).

Dia menjelaskan, tanda-tanda suatu daerah bakal diterpa angin puting beliung. Di antaranya, suhu atau udara di daerah tersebut akan terasa panas sehari sebelum diterpa angin puting beliung.

"Tanda-tanda akan terjadinya cuaca ekstrem, satu hari sebelumnya udara pada malam hingga pagi hari terasa panas dan gerah. Siang sangat terik dan hembusan angin cukup kencang," katanya. 

Padahal, kata dia, umumnya udara atau suhu mulai terasa panas mulai pukul 10.00 WIB. Saat itu, terlihat tumbuh awan Cumulus. Kemudian, di antara awan tersebut akan ada satu jenis awan yang berwarna abu-abu, memiliki batas tepi yang jelas, dan menjulang tinggi. Sehingga menyerupai bunga kol.

“Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam yang dikenal dengan awan Cumulonimbus (CB). Pepohonan di sekitar tempat kita berdiri, ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat karena embusan angin,” jelasnya.

Setelah fenomena tersebut, lanjutnya, udara justru akan menjadi dingin. Biasanya, cuaca ekstrem diawali dengan hujan yang sangat lebat dibarengi angin puting beliung. Namun, jika hujan diawali hanya gerimis, kecil kemungkinan akan terjadi angin kencang.

“Jika satu sampai tiga hari berturut-turut tidak ada hujan pada masa pancaroba, ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun akan diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori cuaca ekstrem,” jelasnya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Ratusan Warga Bogor Terdampak Hujan Deras dan Angin Kencang

Angin Kencang, Parkir Kendaraan Diminta Jauhi Baliho

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Terkait Cuaca Ekstrem

Hujan Deras, Jembatan Lingkungan di Sukabumi Roboh

Perubahan Iklim Dapat Tingkatkan Curah Hujan Ekstrem

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image