Bima Arya: Kembalikan Wisata Glow ke Data

Red: Ratna Puspita

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto | Foto: Republika/Shabrina Zakaria

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengatakan, langkah terbaik terkait polemik pembukaan wisata edukasi Glow Kebun Raya Bogor, yakni melakukan kajian cepat untuk mendapatkan data mengenai dampaknya terhadap ekosistem lingkungan. Bima Arya mengatakan, kajian cepat akan dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan peneliti dari IPB.

Bima Arya mengatakan, kajian cepat ini akan memastikan bisnis wisata malam hari dengan menggunakan lampu warna warni tidak berdampak kepada ekosistem lingkungan. "Untuk Glow, kita kembalikan ke data. Saya sudah bertemu dengan BRIN, sudah berkoordinasi tim IPB, ya, masih fokus kepada mencocokan data-data yang didapat, kajian yang didapat," kata Bima saat diwawancarai di sela peninjauan pembangunan Jalan Ir. H. Juanda, Senin (25/10).

Baca Juga

Karena itu, ia menambahkan, rumor bahwa wisata Glow telah dibuka kemungkinan terkait kegiatan kajian cepat itu. "Itu pasti uji coba internal, karena saya minta jangan dibuka dulu, disetop dulu," katanya.

Setelah kajian cepat menghasilkan temuan, BRIN yang menaungi konservasi di Kebun Raya Bogor itu akan memutuskan mengenai pembukaan wisata Glow. Kendati demikian, Bima menegaskan, Pemerintah Kota Bogor akan memberikan masukan atas kajian tersebut kepada BRIN karena Kebun Raya Bogor masih masuk ke dalam wilayahnya.

Karena itu pula, ia mengatakan, Pemerintah Kota Bogor merekomendasikan agar pihak terkait tidak gegabah membuka wisata malam di Kebun Raya. "Jadi, keputusan Glow itu kita akan memberikan masukkan, semuanya akan kita berikan masukkan kepada BRIN, memang di dalam Kebun Raya itu otoritas BRIN, tapi Kebun Raya bagian dari Pemerintah Kota Bogor, ya," kata Bima.

Sebelumnya, Bima Arya memberikan tiga tanggapan soal program wisata edukasi Glow. Yakni, kewenangan konservasi di Kebun Raya Bogor ada di BRIN, Kota Bogor belum masuk PPKM level 2, dan Pemerintah Kota Bogor menunggu hasil kajian dari peneliti IPB untuk memberi masukan kepada BRIN.

Rencana pembukaan wisata edukasi Glow sempat mengalami penolakan dari empat mantan petingginya. Mantan kepala Kebun Raya Bogor Usep Soetisna (periode 1983-1987), Suhirman (periode 1990-1997), Dedy Darnaedi (periode 1997-2003), dan Irawati (periode 2003-2008) menyampaikan surat terbuka bahwa wisata edukasi Glow bisa mengganggu ekosistem.

Budayawan Jawa Barat juga menganggap wisata edukasi Glow tidak menghormati budaya Sunda. Sementara, dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Melani Abdulkadir Sunito mengatakan, rencana pemasangan lampu sorot (//glow//) untuk atraksi wisata malam akan memberikan tambahan tekanan lingkungan bagi Kebun Raya Bogor.

Ia mengatakan, Kebun Raya Bogor merupakan ekosistem yang sudah terbentuk selama lebih dari 200 tahun. Dalam proses itu, Kebun Raya Bogor telah mengelola diri dengan sangat luar biasa ketika menghadapi berbagai tekanan dari luar. Untuk itu, dia berharap semua pihak tidak menambah tekanan pada kebun raya itu. 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Pembukaan GLOW KRB: Otoritas BRIN dan Masukan Pemkot Bogor

BRIN akan Gelar Artificial Intelligence Innovation Summit

BRIN: Indonesia Cocok Jadi Pusat Peluncuran Satelit

Pembangunan Jalur Pedestrian di Bogor Meleset dari Target

Kota Bogor Tambah Jalur Pedestrian dan Khusus Sepeda

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image