Angka Kematian Akibat DBD di Tasikmalaya Tinggi

Rep: Bayu Adji P / Red: Agus Yulianto

Seorang pasien anak penderita DBD menjalani perawatan di Rumah Sakit. (Ilustrasi)
Seorang pasien anak penderita DBD menjalani perawatan di Rumah Sakit. (Ilustrasi) | Foto: Antara/Oky Lukmansyah

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mencatat angka kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) cukup tinggi. Bahkan, berdasarkan laporan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per November 2021, Kota Tasikmalaya menjadi salah satu daerah dengan kasus kematian akibat DBD tertinggi di Indonesia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Asep Hendra, mengatakan, sepanjang 2021 terdapat sekitar 870 kasus positif DBD di Kota Tasikmalaya. Sebanyak 21 orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

"Mayoritas atau 70 persen yang meninggal itu usia anak," kata dia kepada Republika.co.id, Jumat (21/1/2022).

Asep menyebutkan, berdasarkan laporan Kemenkes per November 2021, angka kematian akibat DBD di Kota Tasikmalaya termasuk yang tertinggi di Indonesia. Ia menyebutkan, Kota Tasikmalaya masuk urutan tiga besar daerah dengan kematian akibat DBD tertinggi di Indonesia.

Menurut dia, kasus DBD saat ini di Kota Tasikmalaya juga masih cukup tinggi. Bahkan, pada Januari 2022, sudah ada laporan satu orang anak di Kota Tasikmalaya meninggal akibat DBD. "Sekarang juga masih rawan karena masih masuk musim hujan," ujar dia.

Dari sebaran kasus, Asep menjelaskan, kasus DBD di Kota Tasikmalaya banyak didapati di wilayah padat penduduk, seperti Kecamatan Tawang, Cipedes, dan Cihideung. Menurut dia, hal itu disebabkan tipologi masyarakat di wilayah perkotaan cenderung tak acuh terhadap kebersihan lingkungan. 

Sementara, salah satu faktor timbulnya DBD adalah karena kebersihan lingkungan. "Itu juga problematik yang pelik," ujar dia.

Asep menjelaskan, pada prinsipnya, DBD sebenarnya ini penyakit yang bisa diobati. Namun, ketika terjadi pendarahan pasien, itu bisa berakibat fatal.

Dia menyebutkan, beberapa kasus DBD yang berujung kematian biasanya dikarenakan tidak terdiagnosis sejak awal. Pasien dibawa ke rumah sakit ketika kondisinya sudah parah.

Menurut dia, langkah antisipasi yang paling mudah sebenarnya itu melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melakukan 3M (menguras, mengubur, dan menutup) tempat penampungan air. "Kalau sarangnya tidak ada, tidak akan ada nyamuknya," ujar dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Kasus Kematian Anak Akibat DBD di Tasikmalaya Meningkat

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image