BPOM Minta Masyarakat tak Perlu Cemas Isu Bahaya Mikroplastik

Red: Erik Purnama Putra

Sampah botol air minum kemasan yang dikumpulkan para pemulung
Sampah botol air minum kemasan yang dikumpulkan para pemulung | Foto: Istimewa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meminta masyarakat bijak maraknya pemberitaan isu bahaya mikroplastik pada air kemasan. Hal itu lantaran Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM Rita Endang menegaskan, sampai saat ini belum ada risiko kesehatan terkait mikroplastik. "Masyarakat tak perlu cemas," kata Rita dalam sebuah sesi dialog publik Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia di Jakarta, belum lama ini.

Berbicara dalam forum 'Sosialisasi Keamanan Kemasan Bahan Pangan Berbahan Baku Plastik yang Mengandung Unsur BPA' yang digelar secara daring pada Oktober tahun lalu, Rita juga meminta masyarakat tidak mudah termakan isu tersebut. "Badan POM tak pernah lepas dari mengawasi segala hal terkait keamanan dan mutu obat dan makanan untuk menjaga kesehatan masyarakat," katanya.

Menurut Rita, mikroplastik pada dasarnya adalah 'unsur serpihan plastik' yang tak kasat mata, berukuran satu hingga lima mikrometer. Mikroplastik pada dasarnya ada di semua unsur plastik jika sampai mengalami degradasi, alias rutuh dari badan polimer, baik karena karena perubahan suhu, gesekan dan sebagainya.

"Degradasi itu bisa terjadi pada plastik jenis PET, PC, PP," katanya merujuk pada jenis plastik yang jamak dijumpai di pasaran dalam wujud wadah botol plastik air minum.  

Dia menyebut, pada 2020, rapat bersama Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives menyampaikan mikroplastik belum perlu jadi prioritas analisis. "Bahkan pada 2021 otoritas keamanan pangan tertinggi Eropa, European Food Safety Authority, juga menyampaikan hal yang sama, pemantauan rutin mikroplastik belum menjadi prioritas," katanya.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia, Rachmat Hidayat menjelaskan, belum ada studi ilmiah yang secara kuat membuktikan bahaya mikroplastik bagi tubuh manusia. "The Joint WHO#FAO Committee on Food Additives selaku lembaga pengkaji risiko untuk keamanan pangan belum mengevaluasi toksisitas mikroplastik," katanya.

Isu bahaya mikroplastik pada air minum menjadi isu hangat di banyak negara, termasuk Indonesia, setidaknya dalam empat tahun terakhir. Pemantiknya adalah laporan hasil riset uji kontaminasi mikroplastik pada air keran (tap water) dan air minum dalam kemasan plastik pada 2018.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), data awal seputar kontaminasi mikroplastik pada air minum dalam wadah botol plastik banyak merujuk pada hasil riset Departemen Kimia, State University of New York at Fredonia, Amerika Serikat. Dari riset itulah kemudian bermunculan banyak penelitian sejenis, berikut pertanyaan atas dampak kontaminasi mikroplastik dalam air minum dalam tubuh manusia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Terkait


BPOM Kaji Kerugian Ekonomi dan Kesehatan Akibat BPA

WHO Disebut Belum Rekomendasikan Pemantauan Mikroplastik

Mikroplastik di Galon Disebut tak Berisiko Kesehatan

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image