Rabu 25 May 2022 13:38 WIB

Kemenkeu: Negara Miskin Sangat Tertekan Akibat Konflik Rusia-Ukraina

Sanksi ekonomi yang dijatuhkan ke Rusia telah memberi tekanan pada perdagangan global

Ekspor-impor (ilustrasi). sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh negara-negara besar terhadap Rusia telah memberikan tekanan pada perdagangan global.
Ekspor-impor (ilustrasi). sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh negara-negara besar terhadap Rusia telah memberikan tekanan pada perdagangan global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menyatakan konflik antara Rusia dan Ukraina memberikan tekanan besar terhadap ekonomi global terutama pada negara miskin dan berpenghasilan rendah."Dampak dari berbagai tindakan dalam merespons krisis geopolitik konflik Ukraina dan Rusia berdampak pada negara-negara di dunia terutama bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan miskin," katanya dalam G20 Side Event Virtual Seminar di Jakarta, Rabu (25/5/2022).

Febrio menjelaskan hal itu terjadi karena sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh negara-negara besar terhadap Rusia telah memberikan tekanan pada perdagangan global.Tekanan tersebut menciptakan gangguan pasokan dan meningkatkan inflasi yang akhirnya berdampak pada negara-negara di dunia terutama bagi negara-negara berpenghasilan rendah dan miskin.

Baca Juga

"Kami telah melihat harga komoditas global termasuk makanan dan energi melonjak sebagai dampak tambahan pada rantai pasokan global," ujarnya.

Situasi geopolitik yang semakin pelik ini pun telah berdampak pada pasar mata uang dan stabilitas ekonomi bahkan merusak pemulihan banyak negara yang sebelumnya sudah terjadi.Tekanan utang di negara-negara berpenghasilan rendah dan miskin juga meningkat signifikan akibat kenaikan harga komoditas global.

OECD pun memperkirakan ekonomi global akan turun satu persen jika konflik berkepanjangan dan inflasi akan meningkat 2,5 persen. IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan global tahun ini sebesar 0,8 persen dari 4,4 persen menjadi 3,6 persen.

Sementara, inflasi negara-negara maju diproyeksikan meningkat sebesar 1,8 persen sementara negara berkembang meningkat sebesar 2,8 persen.Oleh sebab itu, Febrio menegaskan Presidensi G20 Indonesia memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjawab tantangan serta risiko kondisi ekonomi global dan regional.

Menurutnya, berbagai risiko global ini akan mampu dilewati bersama sebagaimana pandemi Covid-19 telah membuat dunia menjadi semakin terhubung dan bergantung."Kami belajar bahwa ekonomi kita tertekan karena pandemi Covid-19. Namun kerja sama internasional yang kuat terbukti lebih penting dalam mengatasi tantangan ini," tegasnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement