Rumah Sakit Bandung Kiwari Sebut Pasien Covid-19 yang Dirawat Sedikit

Rep: M Fauzi Ridwan/ Red: Agus Yulianto

Plt Wali Kota Bandung Yana Mulyana (kiri) didampingi Plt Direktur RSUD Bandung Kiwari Taat Tagore meninjau salah satu ruangan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bandung Kiwari.
Plt Wali Kota Bandung Yana Mulyana (kiri) didampingi Plt Direktur RSUD Bandung Kiwari Taat Tagore meninjau salah satu ruangan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bandung Kiwari. | Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bandung Kiwari menyebut pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit sedikit dan cenderung jarang pada dua bulan terakhir. Pasien yang dirawat tiap hari di bawah angka lima orang.

"Pasien Covid-19 di kita dua bulan terakhir tidak terjadi peningkatan cenderung 0, 1, 2, 0 per hari, belum pernah di angka 5," ujar pelaksana tugas (plt) Direktur RSUD Bandung Kiwari Taat Tagore di Taman Sejarah, Rabu (20/7/2022).

Dia melanjutkan, tidak terdapat pasien yang dirawat dalam jumlah puluhan. Kondisi tersebut seiring penyebaran Covid-19 yang menurun di Kota Bandung.

"Tidak ada (puluhan), mungkin se Kota Bandung. Kalau saya khusus Bandung Kiwari saja. kita paling dari dua, kosong belum ada laporan 5 sehari," katanya.

Taat melanjutkan, pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyiapkan dana Rp 240 miliar per tahun untuk pelayanan kesehatan universal health coverage (UHC) di Rumah Sakit Bandung Kiwari. Selain itu terdapat anggaran dari pihak lain untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

"Pemkot menyediakan alokasi anggaran untuk UHC kurang lebih Rp 240 miliar per tahun atau Rp 20 miliar per bulan dari pemkot, belum dari pusat dan lain-lain belum dari vendor lain," katanya.

Dia mengatakan, masyarakat Kota Bandung dapat mengakses layanan kesehatan tersebut. Namun layanan UHC hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang belum menjadi peserta BPJS kesehatan mandiri atau perusahaan.

Selain itu pengguna layanan UHC harus beridentitas Kota Bandung lebih dari satu tahun, bayi lebih dari satu bulan. "Kalau mau UHC harus mau di kelas 3 itu persyaratan di situ," katanya.

Taat menambahkan, terdapat beberapa penyakit yang tidak dicover layanan kesehatan UHC. Namun, dia tidak merinci penyakit-penyakit yang di maksud. Saat ini, total pasien rawat inap yang menggunakan layanan tersebut mencapai 750 orang.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Polres Tasikmalaya Dorong Percepatan Vaksinasi Covid-19

Dirjen Haji: Belum Ada Kebijakan Tes Covid-19 Jamaah Haji Baru Pulang

Bukan di Dada, Gejala Gagal Jantung Malah Muncul di Pergelangan Kaki, Seperti Apa?

13 Jamaah Haji Gelombang Kepulangan Awal Positif Covid-19

Jamaah Haji Diimbau Gelar Pengajian Dua Pekan Setelah Pulang

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image