Polri Sebut Polemik Soal Harga BBM Masih Wajar

Red: Muhammad Subarkah

Sejumlah mahasiswa berunjuk rasa tolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di depan Kantor DPRD Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (14/9/2022). Dalam aksi tersebut mereka menolak kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi serta mendesak pemerintah secara serius menangani mafia BBM.
Sejumlah mahasiswa berunjuk rasa tolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di depan Kantor DPRD Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (14/9/2022). Dalam aksi tersebut mereka menolak kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi serta mendesak pemerintah secara serius menangani mafia BBM. | Foto: ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

REPUBLIKA.CO.ID, Polri menilai polemik atau silang pendapat terhadap keputusan pemerintah menyesuaikan harga BBM merupakan hal yang wajar.

"Tidak ada kebijakan yang sempurna, karena itu silang pendapat atas penyesuaian harga BBM merupakan hal yang wajar dalam demokrasi," kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, M.Hum., M.Si., M.M., saat membuka FGD "Penyesuaian Harga BBM Dalam Narasi Pembangunan di Indonesia", di Jakarta, Rabu (14/9) siang.

Dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Dr  Ahmad Ramadhan, S.H., M.H., Dedi meyakini penyesuaian harga BBM akan memberikan dampak ke berbagai sektor. 

Namun, menurutnya, pemerintah telah mengantisipasi dengan menyiapkan berbagai program afirmatif bagi masyarakat yang terdampak.

Belum Cukup

Sementara itu Staf Khusus Menkeu, Yustinus Prastowo menjelaskan, berdasarkan perhitungan sementara subsidi BBM telah naik 3X lipat dari perkiraan sebelumnya.

"APBN menggarkan Rp152,5 triliun tetapi realisasi Rp502,4 triliun, naik Rp349,9 triliun," ungkap Prastowo.

Menurut Prastowo subsidi Rp502,4 triliun itu tidak tepat sasaran, karena dinikmati dunia usaha (85% lebih untuk solar dan pertalite), rumah tangga mampu, dan tidak lebih 5% oleh masyarakat miskin.

Padahal, lanjut Prastowo, besarnya subsidi itu setara untuk membangun 3.333 RS tipe menengah, 3.501 ruas tol baru, 227.886 SD, dan 41.666 puskesmas.

"Karena itu kebijakan penyesuaian harga BBM diperlukan untuk menurunkan beban tambahan subsidi dan kompensasi, serta pengalihan subsidi yang lebih tepat sasaran dan adil," tegas Prastowo.

Staf Khusus Menkeu itu mengingatkan, bahwa besaran subsidi BBM masih berpotensi naik jika harga minyak di pasar global mencapai 105 dollar /barrel.

Jika harga minyak 105 dollar AS, maka beban subsidi BBM yg disesuaikan mencapai Rp 649,5triliun, atau kurang atau Rp147,1 triliun. Sementara jika harga minyak di angka 97 dollar, maka beban subsidi mencapai Rp591,7 triliun atau kurang Rp89,3 triliun.

Polri Sebut Polemik Soal Harga BBM Masih Wajar

Prastowo  meminta Polri untuk membantu mengawasi agar pemberian subsidi energi bisa tepat sasaran, termasuk dalam penyaluran program bantuan sosial.

Menanggapi hal itu Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Pol. Pipit Rismanto, S.I.K.

"Polri dapat membantu edukasi, pengawalan bansos agar tepat sasaran, dan melakukan penegakan hukum bila ada penyimpangan terhadap proses-proses," ujarnya.

Jaga Daya Beli

Staf Khusus Menteri PPN/Kepala Bappenas Dr. Ir  Chairil Abdini M.Si. menjelaskan pemerintah perlu mengatur harga BBM karena sifat harga minyak dunia yang sangat fluktuatif.

Ia menjelaskan kalau pemerintah tidak mengatur harga BBM maka resikonya akan sangat besar sekali.

"Akan terjadi oil schok sehingga inflasi akan tinggi dan memberatkan masyarakat," tutur Chairil.

Staf Khusus Menteri PPN itu menegaskan, bahwa pengaturan harga BBM oleh pemerintah semata-mata untuk menjaga APBN tetap sehat, menjaga inflasi, dan daya beli masyarakat.

Ketua Dewan Penasihat Hippindo, Handaka Santosa, bersyukur pemerintah memberikan bantalan sosial terkait penyesuaian harga BBM sehingga daya beli masyarakat akan terjaga."Bagi UMKM ini menguntungkan karena daya beli masyarakat masih terjaga," jelas Handaka.

Ia berharap masyarakat menengah atas yang tidak memperoleh program bantalan sosial tetap mau berbelanja sehingga tetap menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Aksi Mahasiswa Tolak Kenaikan Harga BBM

Jaringan Nusantara: BBM Naik, Mengapa Megawati dan Puan Maharani tak Menangis Lagi?

Kisruh Migor VS Sengkarut Kenaikan BBM: Akankah Kejaksaan Mencari Tersangka?

Kaset Kusut Kenaikan BBM: Dari Lagunya Sama, Begitu-Begitu Saja

Perbankan Ungkap Tiga Dampak Kenaikan Harga BBM

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image