Penyidik Alami Tekanan Ketika Olah TKP Kasus Brigadir J

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Agus Yulianto

Saksi memberikan keterangan saat sidang lanjutan dengan terdakwa kasus perintangan penyidikan dalam perkara dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.
Saksi memberikan keterangan saat sidang lanjutan dengan terdakwa kasus perintangan penyidikan dalam perkara dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. | Foto: Republika/Thoudy Badai

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyidik Polres Metro Jakarta Selatan Aiptu Sullap Abo mengungkapkan, tekanan yang dialaminya ketika melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Rumah Duren Tiga yang ditempati Ferdy Sambo pada 8 Juli 2022. Saat itu, Sullap berstatus sebagai penyidik kasus meninggalnya Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (J).

"Di dalam TKP banyak orang, semua atasan kami. Sehingga secara psikologis tidak membuat kami leluasa untuk mengamankan barang-barang bukti dan TKP," kata Sullap dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin (21/11). 

Sullap dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir dengan terdakwa Bripka Ricky Rizal, Bharada Richard Eliezer (E) dan Kuat Maruf. 

Sullap masih mengingat banyaknya kendaraan Provos Polri di sekitar TKP ketika dirinya tiba. Bahkan sebagian anggota Provos anak buah Ferdy berjaga di sekitar TKP.

"Setelah kami masuk di Komplek Polri, Duren Tiga, ternyata dari depan jalan masuk sampai TKP banyak kendaraan dinas. Ada kendaraan Dinas Provos, ada polisi berpakaian provos, kemudian bet-nya bintang 3 jadi kami tahu itu dari Mabes Polri," ucap Sullap.

Sullap juga mengingat setidaknya melihat mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo, Kabag Gakkum Biro Provost Divisi Propam Polri Kombes Susanto, Kepala Biro Provost Brigjen Benny Ali di TKP.

"Setelah itu saya lihat ada orang tergeletak (Brigadir J)," ujar Sullap. 

Walau ada tekanan, Sullap tetap menunaikan tugasnya melakukan olah TKP. Dari TKP, ia mendapati sepuluh selongsong peluru yang letaknya di sejumlahnya titik di dalam rumah Duren Tiga. 

"Kami temukan ada 10 selongsong yang tergeletak di area ruang tengah, 3 proyektil, dan 4 serpihan," ungkap Sullap.

Diketahui, Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi turut menjadi terdakwa dalam kasus ini. JPU mendakwa kelima terdakwa dengan tindak pidana pembunuhan berencana terhadap Brigadir J dengan Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Pasal 340 mengatur pidana terkait dengan pembunuhan berencana dengan ancaman pidana hukuman mati, pidana penjara seumur hidup, atau penjara 20 tahun.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Bharada E dan Bripka RR Minta Maaf ke Penyidik Karena Berbohong

Bripka Ricky Klarifikasi Soal Uang Rp 200 Juta asal Rekening Brigadir J

Saksi Akui Penyidik Alami Tekanan Saat Olah TKP Kasus Brigadir J

Pengacara Sebut Bharada E Hanya Tembakkan Tiga Peluru

Saksi: Sambo Minta Jangan Interogasi Bharada E Terlalu Keras

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

[email protected]

Ikuti

× Image